Wikipedia

Search results

Sintaksis Bahasa Indonesia

A. Hakikat Sintaksis

Istilah sintaksis diambil dari bahasa Belanda, yaitu syntaxis dan bahasa Inggris yaitu, syntax. Secara tradisional sintaksis adalah bidang tataran linguistic yang disebut tata bahasa atau gramatika (grammar). Tata bahasa memiliki dua bidang, yaitu morfologi dan sintaksis. Kedua bidang ini memang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Orang-orang biasanya membedakannya dengan pegertian morfologi itu membicrakan struktur internal kata, sedangkan pengertian sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran.
Ramlan (1789) mengemukakan bahwa sintaksis adalah bagian atau cabang ilmu bahasa yang membicarakan sebeluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Stryker dan Tarigan (1998) mengatakan bahwa syntx in the studi of the patterns by which words are combined to make sentences. Artinya sintaksis  adalah telaah mengenai pola pola yang diperlukan sebagai sarana untuk menghubung-hubungkan kata menjadi kalimat. Kemudian Muliono (1998) menegaskan bahwa sintaksis adalah studi kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar, yakni frasa, klausa, dan kalimat. Dari beberapa pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membahas tentang kaidah penggabungan kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar disebut frasa, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem suprasegmental(intonasi) sesuai dengan struktur semantik yang diinginkan pembicara sebagai dasarnya.

B. Kedudukan Sintaksis Dalam Ilmu Bahasa (Linguistik)


Lingusitik sebagai disiplin ilmu memiliki beberapa cabang atau subdisiplin. Pembagian subdisiplin itu tergantung pada tetaran-tataran ruang lingkupnya, yakni mencakup fon, fonem, morf, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, wacana, smantik, dan pragmatik. Ilmu yang membicarakan fonem disebut


fonemik, yang membicarakan morf, morfem, dan kata dsebut morfologi, yang membicarakan frasa, klausa, dan kalimat disebut sintaksis.
Disamping itu ilmu yang membicarakan makna yang disebut dengan semantik, dan membicarakan tentag leksikon disebut leksikologi atau leksikografi. Ruang lingkup seperti itu tidak emuanya tergolong dalam tatabahasa. Yang tergolong dalam tatabahasa adalah morf, morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat. Dengan demikian subdisiplin yang tergolong dalam tatabahasa hanyalah morfologi dan sintaksis.

C. Fungsi, Kategori Dan Peran Sintaksis

1.          Fungsi
Fungsi kajian sintaksis terdiri atas beberaoa komponen, tiga yang penting adalah subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
a.          Subjek dan Predikat

Subjek adalah bagian yang terangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan “Apa atau Siapa yang disebut dalam predikat”. Predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan “yang tersebut dalam subjek sedang apa, siapa, berapa, dimana, dan lain-lain”. Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Disis lain, predikat bisa berupa frasa nomina, frasa verba, frasa adjectiva, frasa numeralia, atau pun frasa preposisi.
Contoh kalimat yang memiliki subjek dan predikat

a)        Mahasiswa sedang belajar.
Mahasiswa menduduki fungsi subjek, sedangakan sedang belajar
menduduki fungsi predikat. Mahasiswa (S) Predikat (P).


b.          Objek dan Pelangkap

Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjectiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomina. Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif


(memerlukan objek) atau semitransitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intrasitif (tidak memerlukan objek). Objek juga dapat diubah menjadi subje dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.
Conton kalimat yang memiliki yang memiliki objek dan pelengkap

a)        Dia sedang membenahi kamarnya
Dia menduduki fungsi subjek, sedang membenahi menduduki fungsipredikat, dan kamarnya meruapakan objek. Dia (S) sedang membenahi (P) kamarnya (O).
b)       Paman berjualan sayuran
Subjek diduduki oleh frasa paman berjualan menduduki fungsi predikat dan sayuran sebagai pelengkap. Paman (S) berjualan (P) sayuran (Pel).

c.          Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang enerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap. Keterangan berupa frasa nomina, frasa preposisi, dan frasa konjungsi. Keterangan mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap.
Contoh kalimat yang memiliki keterangan
a)        Hari ini mahasiswa mengadakan seminar di Audiotorium
Hari ini dan di audotorium merupakan keterangan, mahasiswa menduduki fungsi sebagai subjek, mengadakan merupakan predikt, dan seminar adalah fungsi objek. Hari ini (K), Mahasiswa (S) mengdakan (P) seminar (O) di auditorium (K).
2.          Kategori
Dalam ilmu bahasa, kata yang memiliki bentuk dan perilaku yang sama atau mirip dimasukkan ke dalam suatu kelompok. Disisi lain, kata yang memiliki bentuk dan perilaku yang sama atau mirip dengan sesamanya, tetapi berbeda dengan kelompok yang pertama, dimasukkan kedalam kelompok yang lain. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaksisnya.


Kategori sintaksis sering pula disebut kategori atau kelas kata. Empat kategori sintaksis utama adalalah:
a.      Verba atau kata kerja
b.     Nomina atau kata benda
c.      Adjectiva atau kata sifat
d.     Adverbal atau kata keterangan


3.          Peran sintaksis
Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peraan semantik tertentu.
Contoh sebagai berikut:

a.      Farida menunggui adiknya
b.     Pencuri itu lari
c.      Penjahat itu mati

Berdasarkan peran semestinya, farida pada kalimat (1) adalah pelaku, yakni orang yang melakukan perbuatan menunggui. Adiknya pada kalimat (1) adalah sasaran, yakni yang terkena perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. Pencuri pada kalimat (2) adalah juga pelaku dia melakukan perbuatan lari. Akan tetapi, penjahat pada kalimat (3) bukanlah pelaku karena mati bukanlah perbuatan yang dia lakukan, melainkan suatu peristiwa yang terjadi padanya. Oleh karena itu, mekipun wujud sintaksisnya mirip dengan kalimat (2), penjahat itu pada kalimat
(3) adalah sasaran.

d. Satuan Sintaksis

1.          Kata

Kata merupakan satuan terkecil dari sintaksis. Kata juga berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis dan sebagai penyatuan satuan-satuan dari satuan sintaksis. Klasifikasi kata dapat dibedakan menjadi:
a.      Klasifikasi kata berdasarkan bentuknya
a)          Kata dasar, ialah kata yang merupakan kata dasar pembentukan kata berimbuhan atau bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi. Misalnya lari, meja, beli, makan, dan sebagainya.


b)         Kata berimbuhan ialah kata-kata yang mengalami perubahan bentuk akibat melekatnya imbuhan baik di awal, di tengah, di akhir, baik dengan gabungan, maupun konfiks. Contohnya digambar, mempersembahkan, tarikan, dan sebagainya.
c)          Kata berulang atau reduplikasi ialah kata yang mengalami perulangan. Contohnya buku-buku, berlari-lari, dan sebagainya.
d)         Kata majemuk ialah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga memiliki identitas yang baru. Contohnya rumah sakit, daya juang, lalu lintas, dan sebagainya.

b.     Klasifikasi kata berdasarkan kelasnya
a)          Verba (kata kerja) adalah kata-kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan. Contohnya pergi, makan, minum, tidur, suka, dan sebagainya.
b)         Adjektiva (kata sifat) adalah suatu kata yang digunakan untuk mengungkap sifat atau keadaan suatu objek, baik itu manusia, hewan dan tumbuhan serta barang/ benda. Contohnya paling, lebih, kurang, dan sebagainya.
c)          Nomina (kata benda) adalah kata-kata yang sifatnya merujuk dari bentuk sebuah benda atau barang. Contohnya lemari, meja, kursi, papan tulis, radio, dan sebagainya.
d)         Adverbial (kata keterangan) adalah suatu jenis kata yang sifatnya memberikan keterangan (penjelasan) terhadap semua kalimat. Kata keterangan dapat dibedakan menjadi keterangan waktu, keterangan tempat. Contohnya pagi, siang, sore, malam, rumah, teras, kelas, toko, dan sebagainya.
e)          Konjungsi (kata sambung) adalah kata untuk menghubungkan kata-kata, ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat dan sebagainya dan tidak untuk tujuan atau maksud lain.


2.          Frase

Merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif atau gabungan kata yang salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat.
Contoh: tanah tinggi, belum makan, kamar tidur. Ciri-ciri frase yaitu :

a)        Frase terdiri dari dua kata atau lebih
b)       Frase belum melampaui batas fungsi (SPOK)
c)        Frase belum memenuhi syarat sebagai klausa
d)       Frase lebih kecil daripada klausa Beberapa kategori mengenai frase yaitu :
a.      Frase nominal, contohnya adik saya, sebuah meja, rumah makan yang mimiliki fungsi sebagai S atau O.
b.     Frase verbal, contohnya suka makn, sudah mandi, makan minum yang memiliki fungsi sebagai P.
c.      Frase ajektifal, contohnya sangat indah, bagus sekali, merah muda memiliki fungsi sebagai P.
d.     Frase preposional, contohnya di pasar, ke Surabaya, pada tahun 2006 yang memiliki fungsi sebagai Ket.
Jenis-jenis frase:

a.      Frase Endosentrik

Adalah frase yang satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya (dapat menggantikan kedudukan secara keseluruhan).
b.     Frase Eksosentrik

Adalah frase yang hubungan kedua unsurnya sangat erat, sehingga kedua unsurnya tidak bisa dipisahkan sebagai pengisi fungsi sintaksis.
c.      Frase Koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama.


d.     Frase Subordinatif

Adalah frase yang kedudukan kedua unsurnya tidak sama, unsur yang satu berstatus sebagai atasan dan yang lain sebagai bawahan.
3.          Klausa

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata kata berkonstruktif predikatif. Klausa berpontensi jadi kalimat tunggal karena didalamnya ada fungsi sintaksis wajib, yaitu subjek dan predikat.
a)        Contoh: Kakek membaca koran tadi pagi.
Contoh dalam kalimat majemuk koordinatif yang terdapat dua kalusa: Nenek membaca komik.
b)       Contoh klausa yang terletak ditengah kalimat karena disisipkan sebagai keterangan tambahan: Gadis itu bukan cucu nenek.
Jenis-jenis klausa:
a.      Berdasarkan struktur:
1)    Klausa bebas: memiliki unsur-unsur lengkap minimal mempunyai subjek dan predikat.
Contoh: Nenekku masih cantik.
2)    Klausa terikat: mempunyai struktur yang tidak lengkap.
Contoh: Konstruksi “tadi pagi” yang bisa menjadi kelimat jawaban untuk kalimat tanya “Kapan nenek membaca koran?”

b.     Berdasarkan unsur segmental yang menjadi predikat:
1)    Klausa verbal: klausa yang predikatnya berkategori verba. Misal: nenek madi, matahari terbit.
2)    Klausa nominal: klausa yang predikatnya berupa nomina. Misal: kakeknya petani di desa itu (nominanya adalah petani).
3)    Klausa Adjektif: Kalusa yang predikatnya berkategorikan kata sifat. Misal: ibu dosen itu cantik sekali.
4)    Klausa adverbal: kalusa yang predikatnya bberupa adverbal. Misal bandelnya teramat sangat.


5)    Kalusa Preposional: kalusa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi. Contoh: nenek ada di kamar, dia datang dari medan dan kakek pergi ke pasar baru.
6)    Klausa numeral: Klausa yang predikatnya berupa kata/frase numerial: contoh: gajinya adalah lima juta dan taksi ada delapan buah.

4.          Kalimat

Merupakan satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final. Intonasi final yang merupakan syarat penting dalam pembentukan kata dapat berupa:
a.        Intonasi deklaratif, yang dalam bahasa ragam tulis diberi tanda titik
b.        Intonasi interogatif, yang dalam bahasa ragam tulis diberi tanda tanya
c.        Intonasi imperative, yang dalam bahasa ragam tulis diberi tanda seru
d.        Intonasi interjektif, yang dalam bahasa ragam tulis diberi tanda seru.

Tanpa intonasi final ini sebuah klausa tidak akan menjadi sebuah kalimat.

Jenis kalimat

a.      Berdasarkan kategori klausanya dibedakan adanya
a)  Kalimat verbal, merupakan kalimat yang predikatnya berupa verba atau frase verbal
b)  Kalimat ajektifal, merupakan kalimat yang predikatnya berupa ajektifa atau frase ajektifal
c)  Kalimat nominal, merupakan kalimat yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal
d)  Kalimat preposisional, merupakan kalimat yang predikatnya berupa frase prepsisional. Kalimat ini hanya digunakan dalam bahasa ragam nonformal
e)  Kalimat numeral, merupakan kalimat yang predikatnya berupa numeralia atau frase numeral. Kalimat ini hanya digunakan dalam bahasa ragam nonformal


f)  Kalimat adverbial, merupakan kalimat yang predikatnya berupa adverbia atau frase adverbial

b.     Berdasarkan jumlah klausanya dibedakan adanya
a)  Kalimat sederhana, yaitu kalimat yang dibangun oleh sebuah klausa
b)  Kalimat “bersisipan”, yaitu kalimat yang pada salah satu fungsinya “disisipkan” sebuah klausa sebagai penjelas atau keterangan
c)  Kalimat majemuk rapatan, yaitu sebuah kalimat majemuk yang terdiri dari dua klausa atau lebih dimana ada fungsi-fungsi klausanya yang dirapatkan karena merupakan substansi yang sama
d)  Kalimat majemuk setara, yaitu kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih dan memiliki kedudukan yang setara
e)  Kalimat majemuk bertingkat, yaitu kalimat yang terdiri dari dua buah klausa yang kedudukannya tidak setara
f)  Kalimat majemuk kompleks, yaitu kalimat yang terdiri dari tiga klausa atau lebih yang di dalamnya terdapat hubungan koordinatif (setara) dan juga hubungan subordinatif (bertingkat)

c.      Berdasarkan modusnya dibedakan adanya
a)  Kalimat berita (deklaratif), yakni kalimat yang berisi pernyataan belaka
b)  Kalimat Tanya (interogatif), yakni kalimat yang berisi pertanyaan yang perlu dijawab
c)  Kalimat perintah (imperatif), yakni kalimat yang berisi perintah dan perlu diberi reaksi berupa tindakan
d)  Kalimat seruan (interjektif), yaitu kalimat yang menyatakan ungkapan perasaan
e)  Kalimat harapan (optatif), yakni kalimat yang menyatakan harapan atau keinginan


ANALISIS KALIMAT
Kalimat:
Fungsi, Kategori, Makna


Rani
membaca
buku sastra
di perpustakaan
F
S
P
O
Ket
K
N
V
FN
FP
M
Pelaku
Perbuatan
Penderita
Keterangan

5.          Wacana

Wacana merupakan satuan tertinggi dalam hierarki sintaksis, wacana memiliki pengertian lengkap atau utuh dibangun oleh kalimat atau kalimat- kalimat. Artinya yaitu sebuah wacana mungkin hanya terdiri dari sebuah kalimat, mungkin juga terdiri dari sejumlah kalimat. Ciri-ciri khas sebuah wacana sebagai berikut :
a.      Urutan penanda, mencakup konjungsi/ adverbial transisional, bentuk kata kerja khusus dn bntuk-bentuk pronominal
b.     Ciri-ciri kala urutan kalimat dan klausa, mencakup urutan linguistik kata-kata dan urutan historis peristiwa-peristiwa
c.      Ciri-ciri spasial urutan kalimat dan klausa, mencakup pendirian sang pengarang dan posisi pencerita/ pembicara
d.     Penyambung formal dan semantic, mencakup susunal parallel atau kiastik dan ciri-ciri urutan matrik/ rima
e.      Urutan tipe kalimat dan klausa, mencakup wacana langsung dan wacana tidak langsung
Jenis wacana

a.      Berdasarkan tertulis atau tidaknya
Wacana tertulis misalnya surata, majalah, cerpen, novel, dsb. Sedangkan wacana tidak tertulis atau lisan misalnya diskusi, debat, dan dialog.


b.        Berdasarkan pengungkapan langsung dan tidak langsung
Wacana langsung adalah wacana yang berisi pengungkapan langsung dari si penutur atau si pembicara. Salah satu contoh seperti dialog langsung. Sedangkan wacana tidak langsung adalah wacana yang berisi ugkapan ungkapan tidak langsung dari sang tokoh. Contohnya yaitu resume, laporan, dan sebaginya.
c.        Berdasarkan cara menuturkan
Wacana ini dibedakan menjadi dua yaitu wacana pmbeberan dan wacana penuturan. Wacana pembeberan adalah wacana yang berisi pembeberan suatu peristiwa atau kasus. Contoh adalah pernyataan kasus dari seorang saksi kepada pihak penyidik terhadap peristiwa yang terjadi. Biasanya disampaikan secara terbuka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sedangkan wacana penuturan adalah wacana yang berisi pernyataan sikap dari seseorang. Contohnya adalah wacana langsung yaitu wacana hasil tuturan seseorang.
d.        Berdasarkan bentuk
Wacana ini dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu waca ilmiah, wacana puisi, wacana drama. Wacana ilmiah adalah wacana yang berisi hasil kajian ilmiah. Contohnya skripsi, tesis, dan disertasi. Wacana puisi adalah wacana sastra berupa ungkapan sesaat sang penulis. Misalnya ungkapan perasaan kagum, sedih, senang, gembira, pilu, kesal, dan sebagainya. Sementara wacana drama adalah wacana sastra yang berisi dialog-dialog sang tokoh. Biasanya wacana ini ditulis dengan maksud untuk ditampilkan di atas pentas(dilakonkan). Contohnya teks atau naskah drama.





A.            Kesimpulan



BAB III PENUTUP




Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membahas tentang kaidah penggabungan kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar disebut frasa, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem suprasegmental(intonasi) sesuai dengan struktur semantik yang diinginkan pembicara sebagai dasarnya. Ilmu yang membicarakan fonem disebut fonemik, yang membicarakan morf, morfem, dan kata dsebut morfologi, yang membicarakan frasa, klausa, dan kalimat disebut sintaksis.
Satuan sintaksis terdiri dari kata yang merupakan satuan terkecil dari sintaksis. Frase berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif atau gabungan kata yang salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Klausa berupa runtutan kata kata berkonstruktif predikatif. Kalimat terdiri dari konstituen dasar dan intonasi final. Wacana memiliki pengertian lengkap atau utuh dibangun oleh kalimat atau kalimat-kalimat.

B.             Saran


Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa agar berkomunikasi dengan baik dan benar. Materi ini sangat penting untuk di ajarkan kepada anak sejak usia dini karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak. Semoga dengan penulisan makalah ini pembaca dapat memahami materi tentang apresiasi sastra Indonesia. Jika terdapat kekurangan, dengan senang hati penulis akan menerima kritik dan saran yang membangun agar pada kesempatan selanjutnya penulis dapat menuliskan makalah yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA


Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: RINEKA CIPTA
Suhardi. 2013. DASAR-DASAR ILMU SINTAKSIS BAHASA INDONESIA.
Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA

Awalludin. 2017. PENGEMBANGAN BUKU TEKS SINTAKSIS BAHASA INDONESIA.Yogyakarta: DEEPUBLISH
Supriyadi. 2014.Sintaksis Bahasa Indonesia. Gorontalo: UNG Press

Manaf, Ngusman Abdul. 2009. Sintaksis: Teori dan terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press